A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Recently Lyrics Updated

[Verse 1]
Jatuh dan tersungkur di tanah aku
Berselimut debu sekujur tubuhku
Panas dan menyengat
Rebah dan berkarat

[Chorus]
Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

[Verse 2]
Di mana ada musim yang menunggu?
Meranggas merapuh, berganti dan luruh
Bayang yang berserah
T’rang di ujung sana

[Chorus]
Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Jangan mau tuk mengalir
sebab nanti kau akan terbawa arus
jangan mau tuk berjalan
sebab nanti kau akan hilang arah

lalu tinggalah kau sendiri

dia bilang mengalir saja
mengalir, mengalir
mengalir, mengalir
mengalir, mengalir
mengalir, mengalir

lalu hanyut dan hilang

saat kau ragu arah tuju
disitulah kau mulai terbawa arus
dalam kamu kian terkerus
kau tau itu kau telah hilang arah

lalu tinggalah kau sendiri

dia bilang mengalir saja
mengalir, mengalir
mengalir, mengalir
mengalir, mengalir
mengalir, mengalir

lalu hanyut dan hilang
Ada dawai dawai yang tak bisa dipetik
dan dibiarkan bergeming dalam hati manusia
ada binatang jalang yang tak bisa dilawan
dan dibiarkan menari liar dalam tubuh manusia

Ada dawai dawai yang tak bisa dipetik
dan dibiarkan bergeming dalam hati manusia
ada binatang jalang yang tak bisa dilawan
dan dibiarkan menari liar dalam tubuh manusia

di sesak dada 
di kering luka
di sisa rindu
atau di ambang pilu

di sesak dada 
di kering luka
di sisa rindu
atau di ambang pilu
Aku...
Dingin.....
dan kau makin semarak menuang cuka diatas luka

aku mendakimu jauh sampai patah kaki
sedang kau mati suri berdendang sendiri
aku mendakimu jauh sampai patah kaki
sedang kau mati suri berdendang sendiri

Aku...
Dingin....
dan kau makin semarak menuang cuka diatas luka

aku mendakimu jauh sampai patah kaki
sedang kau mati suri berdendang sendiri
aku mendakimu jauh sampai patah kaki
sedang kau mati suri berdendang sendiri

Sejak itu Tuhan sebut kita sia sia
sejak itu Tuhan sebut kita sia sia
sejak itu Tuhan sebut kita sia sia
sejak itu Tuhan sebut kita sia sia

sejak itu Tuhan sebut kita sia sia
(aku mendakimu jauh sampai patah kaki
sedang kau mati suri berdendang sendiri)
sejak itu Tuhan sebut kita sia sia
(aku mendakimu jauh sampai patah kaki
sedang kau mati suri berdendang sendiri)
sejak itu Tuhan sebut kita sia sia
(aku mendakimu jauh sampai patah kaki
sedang kau mati suri berdendang sendiri)
sejak itu Tuhan sebut kita sia sia
(aku mendakimu jauh sampai patah kaki
sedang kau mati suri berdendang sendiri)

Senja sudah lewat dan malam
mulai pekat saatnya rindu
berbaris masuk kelas untuk belajar
mengenal denda

kukumu panjang kata ibu rindu
ini karena memang tak pernah dipangkas
kukumu panjang kata ibu rindu
ini karena memang tak pernah dipangkas

tapi ibu rindu memang benar
rindu harus dibayar tuntas
seperti kuku panjang yang mesti dipangkas
tiap kali hendak masuk kelas

Senja sudah lewat dan malam
mulai pekat saatnya rindu
berbaris masuk kelas untuk belajar
mengenal denda

kukumu panjang kata ibu rindu
ini karena memang tak pernah dipangkas
kukumu panjang kata ibu rindu
ini karena memang tak pernah dipangkas

tapi ibu rindu memang benar
rindu harus dibayar tuntas
seperti kuku panjang yang mesti dipangkas
tiap kali hendak masuk kelas

tapi ibu rindu memang benar
rindu harus dibayar tuntas
seperti kuku panjang yang mesti dipangkas
tiap kali hendak masuk kelas
Amigdala - Kukira Kau Rumah

Kau datang tat kala
dinar senjaku telah redup
dan pamit ketika purnamaku penuh seutuhnya

kau yang singgah tapi tak sungguh
kau yang singgah tapi tak sungguh

ku kira kau rumah
nyatanya kau cuma aku sewa
dari tubuh seorang perempuan
yang memintamu untuk pulang

kau bukan rumah
kau bukan rumah
kau bukan rumah
kau bukan rumah

ku kira kau rumah
nyatanya kau cuma aku sewa
dari tubuh seorang perempuan
yang memintamu untuk pulang

kau bukan rumah
kau bukan rumah
kau bukan rumah
kau bukan rumah

kau bukan rumah
kau bukan rumah
kau bukan rumah
kau bukan rumah